Londo ireng artinya secara harfiah “Belanda hitam” dalam bahasa Jawa — istilah sejarah yang kembali viral setelah dipakai Presiden Prabowo Subianto untuk menyindir sejumlah pihak yang dianggap berpihak pada kepentingan asing.
Frasa londo ireng artinya apa jadi salah satu yang paling banyak dicari di Google belakangan ini. Istilah lawas dari era kolonial ini mendadak ramai lagi setelah muncul dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada akhir Juli 2026, dan langsung memicu perdebatan luas di media sosial maupun kalangan pers.
Asal-Usul Londo Ireng
Secara harfiah, “londo” berarti Belanda dan “ireng” berarti hitam dalam bahasa Jawa, sehingga londo ireng diterjemahkan sebagai “Belanda hitam”. Istilah ini awalnya merujuk pada Zwarte Hollanders, yaitu tentara asal Afrika Barat (terutama dari wilayah yang kini menjadi Ghana) yang direkrut Belanda untuk memperkuat KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) pada abad ke-19, karena dianggap lebih tahan terhadap iklim tropis dibanding tentara Eropa. Karena mengenakan seragam dan berstatus hukum sama seperti serdadu Eropa meski berkulit gelap, masyarakat pribumi menjuluki mereka londo ireng.
Seiring waktu, istilah ini juga dipakai untuk menyebut pribumi yang ikut membela kepentingan kolonial Belanda, termasuk yang muncul sejak era Perang Diponegoro lewat Legiun Mangkunegaran. Dari sinilah makna londo ireng bergeser menjadi kiasan untuk orang yang berpenampilan atau berbudaya lokal, tapi dianggap bertindak dan berpihak pada kepentingan pihak asing/penjajah.
Kenapa Londo Ireng Viral Lagi di 2026?
Istilah ini kembali ramai setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakannya dalam pidato pada puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, 23 Juli 2026. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa masih ada pihak-pihak di Indonesia yang dinilainya lebih mengutamakan kepentingan bangsa lain, dan menyamakan kelompok tersebut dengan londo ireng di masa kolonial — kali ini menyasar wartawan, pengamat, akademisi, ekonom, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kerap kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Reaksi dan Kontroversi
Pernyataan tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Menurut laporan Kompas, organisasi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai pelabelan semacam ini berisiko memberi pembenaran bagi pihak lain untuk mengintimidasi atau membatasi ruang gerak para pengkritik. Dewan Pers dan sejumlah organisasi masyarakat sipil turut menyoroti bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara, bukan bentuk pengkhianatan.
Di sejumlah daerah, termasuk Malang Raya, gabungan organisasi pers seperti PWI, AJI, IJTI, dan PFI bahkan menggelar aksi damai bertajuk “Kami Bukan Londo Ireng” untuk menuntut klarifikasi dan permintaan maaf terbuka dari Presiden. Di sisi lain, pernyataan ini disampaikan Presiden sebagai bagian dari kritiknya terhadap pemberitaan yang menurutnya kerap menonjolkan sisi negatif meski pemerintah mengklaim telah menjalankan berbagai program pembangunan.
Fenomena istilah viral yang lahir dari pidato pejabat publik seperti ini sebenarnya bukan hal baru — mirip dengan bagaimana slogan no kings juga sempat viral karena dipakai dalam konteks demonstrasi politik di negara lain.
FAQ Seputar Londo Ireng
Londo ireng artinya apa?
Secara harfiah berarti “Belanda hitam”, istilah Jawa yang awalnya merujuk pada tentara Afrika di KNIL, kemudian berkembang jadi sindiran untuk pribumi yang dianggap berpihak pada kepentingan asing.
Siapa yang membuat istilah ini viral kembali di 2026?
Presiden Prabowo Subianto memakai istilah ini dalam pidato di acara Harlah ke-28 PKB pada 23 Juli 2026, untuk menyindir wartawan, akademisi, dan LSM yang dianggap kritis terhadap pemerintah.
Kenapa istilah ini menuai kontroversi?
Karena dianggap berpotensi menstigmatisasi kritik yang sebenarnya merupakan hak konstitusional, serta berisiko mempersempit ruang kebebasan pers dan berekspresi.
Apakah londo ireng dulu benar-benar ada dalam sejarah?
Ya. Istilah ini merujuk pada tentara bayaran asal Afrika Barat yang direkrut Belanda untuk KNIL pada abad ke-19, serta pribumi yang membela kepentingan kolonial pada masa Perang Diponegoro.
Kesimpulan
Londo ireng artinya “Belanda hitam”, istilah sejarah dari era kolonial yang kini viral kembali setelah dipakai Presiden Prabowo untuk menyindir pihak-pihak yang dianggap kritis terhadap pemerintah. Pernyataan ini memicu perdebatan luas, dengan sejumlah organisasi pers dan masyarakat sipil menilai istilah tersebut berpotensi menstigmatisasi kritik yang sah dalam demokrasi.

