Move on artinya bergerak maju, yaitu proses melepaskan ikatan emosional dari seseorang atau situasi di masa lalu agar bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik. Istilah ini diserap dari bahasa Inggris yang secara harfiah berarti “berpindah” atau “melangkah maju”, tapi di telinga Gen Z Indonesia maknanya jadi lebih personal — proses bangkit setelah putus cinta, di-PHK, atau kehilangan sesuatu yang berarti.
Move on artinya bukan hal yang sesederhana kedengarannya. Di balik dua kata itu ada proses yang sering butuh waktu lama untuk dijalani, diiringi rasa kehilangan, rasa bersalah, dan pertanyaan apakah keputusan untuk berhenti berharap itu sudah benar. Frasa ini semakin sering muncul di percakapan Gen Z Indonesia karena makin banyak yang mulai terbuka soal proses emosional setelah hubungan berakhir. Istilah ini termasuk dalam ungkapan bahasa Inggris gaul yang sering dipakai untuk menggambarkan dinamika hubungan dan keputusan emosional yang maknanya perlu dipahami lebih dari sekadar terjemahan kata per kata.
Move On Artinya Apa Secara Harfiah dan Gaul?
Secara harfiah: move = bergerak, on = lanjut/menuju arah tertentu.
Jadi move on artinya bergerak maju atau melangkah lanjut — dalam konteks hubungan, ini berarti secara sadar berhenti terikat pada masa lalu dan mulai membangun fase hidup yang baru.
Yang membedakan move on dari sekadar “melupakan” adalah kesadarannya — ini bukan karena ingatan tiba-tiba hilang, tapi karena ada keputusan aktif untuk berhenti memberi ruang pada harapan yang sebenarnya sudah tidak realistis lagi.
Kenapa Move On Itu Susah Banget Dilakukan?
Ini bagian yang sering luput dipahami: move on bukan cuma soal menunggu waktu berlalu. Psikolog yang banyak meneliti soal patah hati menjelaskan bahwa otak manusia memproses kehilangan hubungan dengan cara yang mirip memproses rasa sakit fisik — itu kenapa “nanti juga lupa sendiri” jarang berhasil kalau cuma pasif menunggu. Proses move on lebih efektif kalau dilakukan secara aktif: berhenti mencari “kenapa” di balik putusnya hubungan, menerima kenyataan bahwa itu sudah selesai, dan secara sadar memilih untuk berhenti memberi ruang ke harapan yang sebenarnya sudah tidak realistis. Tanpa langkah aktif ini, seseorang bisa terjebak berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di titik yang sama seperti hari pertama putus.
Ciri Kamu Masih “Gamon” atau Udah Move On
Di sinilah istilah turunan “gamon” — singkatan dari gagal move on — sering muncul. Seseorang yang gamon biasanya masih aktif stalking media sosial mantan, gampang baper kalau dengar lagu atau lewat tempat yang berkaitan dengannya, atau diam-diam masih berharap bisa balikan. Ada juga istilah “sasimo” (sana sini mau) yang sebenarnya konsepnya beda — ini lebih ke sikap nggak konsisten dalam memilih, bukan soal gagal melepaskan masa lalu — tapi keduanya sering disebut bersamaan karena sama populer di obrolan soal hubungan.
Salah satu tanda gamon yang paling sering muncul adalah masih berada di fase denial alias menyangkal kenyataan yang sudah terjadi — momen ketika hati masih menolak percaya dan otak terus mencari alasan supaya semuanya terasa baik-baik saja. Mengenali fase ini penting, karena tanpa sadar berada di sini, proses move on bisa berhenti di tengah jalan.
Cara Move On yang Sehat ala Gen Z
Beberapa langkah yang biasa direkomendasikan dan terbukti lebih efektif dibanding sekadar “menunggu”:
- Berhenti stalking media sosial mantan, minimal untuk beberapa minggu pertama — ini langkah paling dasar tapi paling sering diabaikan.
- Alihkan energi ke aktivitas fisik. Selain bikin tubuh lebih sehat, olahraga terbukti membantu mengurangi pikiran yang berputar-putar soal masa lalu.
- Isi waktu dengan hal yang membangun, misalnya rutin baca buku self-development biar mindset makin kuat — kamu bisa cek koleksi buku self-development di Periplus untuk cari judul yang cocok dengan fase hidupmu sekarang.
- Ambil jarak lewat pengalaman baru. Banyak yang merasa short trip ke tempat baru lebih efektif buat “reset” pikiran daripada cuma diam di rumah — kamu bisa intip dulu pilihan aktivitas wisata di Klook buat nyusun itinerary singkat akhir pekan.
Bayangin gini: dua bulan setelah putus, ada yang masih refleks mau buka Instagram mantannya setiap malam sebelum tidur. Tapi pelan-pelan, kebiasaan itu diganti dengan jalan pagi sambil dengerin podcast, lalu menulis jurnal singkat soal apa yang dirasakan hari itu. Bukan proses yang instan, tapi setiap hari jadi sedikit lebih ringan — dan itu yang sebenarnya dimaksud dengan “move on”: bukan melupakan, tapi berdamai.
Sebelum semua langkah di atas bisa benar-benar terasa, ada satu hal yang sering jadi kunci: closure atau rasa selesai dari sebuah hubungan, yaitu jawaban yang membuat hati bisa menerima bahwa semuanya memang sudah berakhir. Tanpa closure, proses move on biasanya jalan di tempat — makanya banyak orang butuh waktu untuk benar-benar mengikhlaskan, bukan cuma berpura-pura sudah baik-baik saja.
FAQ Seputar Move On
Move on itu artinya apa sih sebenarnya?
Move on artinya proses melepaskan ikatan emosional dari seseorang, hubungan, atau situasi yang sudah berakhir, supaya bisa melanjutkan hidup ke fase berikutnya dengan lebih sehat.
Berapa lama waktu yang normal buat move on dari mantan?
Tidak ada patokan waktu yang pasti karena setiap orang dan setiap hubungan berbeda. Yang lebih penting bukan soal berapa lama, tapi apakah seseorang melakukan langkah aktif untuk berdamai dengan masa lalunya atau hanya menunggu pasif.
Apa beda “gamon” dan “sasimo”?
Gamon berarti gagal move on, yaitu masih terikat secara emosional dengan masa lalu. Sasimo berarti sana sini mau, yaitu sikap tidak konsisten dalam memilih atau memutuskan sesuatu — dua istilah yang berbeda konsep meski sering disebut bersamaan.
Gimana ciri orang yang udah benar-benar move on?
Biasanya sudah tidak lagi mencari-cari kabar mantan, bisa membahas hubungan lama tanpa emosi berlebih, dan fokus energinya ada di kehidupan serta rencana ke depan, bukan ke masa lalu.
Boleh nggak masih berteman sama mantan setelah putus?
Boleh, tapi idealnya hanya kalau kedua pihak sudah benar-benar tidak punya perasaan tersisa dan ada batasan yang jelas, supaya hubungan pertemanan itu tidak menghambat proses move on masing-masing.

